Tuesday, August 16, 2011

HUT ke-66 RI, Dua Kampung di Jombang Enggan Pasang Bendera



Foto: Tamam Mubarrok
<a href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=aca95ca9&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=159&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aca95ca9' border='0' alt='' /></a>
Jombang - HUT ke-66 RI tahun ini ternyata tidak seramai seperti perayaan tahun lalu. Tahun ini, kehadiran peringatan kemerdekaan tidak disambut dengan memasang bendera. Bahkan, ada dua kampung di Kabupaten Jombang yang enggan memasang dengan alasan lupa.



Perayaan HUT RI seakan mati suri. Warga pun mulai malas memeriahkan hari kemerdekaan ini. Beberapa warga mengaku memeriahkan tidak penting, selain itu mereka juga tidak mendapat himbauan dari perangkat desa.



Dari pantauan detiksurabaya.com, suasana kampung di Kelurahan Kaliwungu, tepatnya di Gang Rutan Jalan Wahid Hasyim Jombang Kota. Kampung yang letaknya sangat dekat dengan kantor instansi pemerintahan ini tak terlihat memasang bendera.



Gang sepanjang 1 Km ini tak terlihat satupun bendera merah putih dipasang di depan rumah. Umbul-umbul yang biasa dijadikan hiasan di sepanjang jalan untuk menyambut perayaan 17 Agustus ini juga tak tampak dipasang.



Wagiman (52), adalah salah satu warga Kaliwungu yang tidak memasang bendera. Bapak tujuh anak ini mengaku sudah tak penting lagi memasang bendera saat perayaan 17 Agustus. Meski sudah 66 tahun bangsa ini berdiri, hingga saat ini Wagiman belum merasa merdeka.



"Mau merdeka gimana, wong sembako mahal. Biaya pendidikan, kesehatan mahal. Ngurus KTP saja nyangoni (membayar, red)," katanya saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com depan rumahnya, Selasa (16/8/2011).



Selain di Kelurahan Kaliwungu Jalan Wahid Hasyim, pemandangan sama juga terlihat di Desa Candi Kecamatan Jombang Kota. Di sini, dari mulai gapura kampung tak satupun gang dan sudut-sudut kampung terlihat memasang bendera dan umbul-umbul.



Seperti yang dialami oleh Suparti (43), warga Desa Candi dan keluarganyan, baru mengetahui jika besok sudah tanggal 17 Agustus. Tentu hal ini sangat memilukan bagi warga negara untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaannya.



"Saya kok lupa kalau besok itu 17 Agustus, suami saya juga belum membeli bendera. Dari perangakat desa tumben tidak ada imbauan," katanya sembari tertawa saat ditemui di rumahnya.



Pada perayaan HUT RI ke 66 kali ini, Suparti yang bekerja sebagai buruh pabrik ini berkeinginan agar acara ini tak dijadikan acara rutinan tiap tahun saja. Dia meminta pemerintah agar rakyat kecil diperhatikan semestinya.



"Kalau hanya peringatan sih tidak ada maknanya. Sebaiknya diimbangi dengan perhatian ke rakyat. Kalau rakyat susah kan belum merdeka, kenapa harus merayakan," pungkasnya.