Sunday, August 14, 2011

Fakta Mengejutkan Kerusuhan London

Pada satu sisi, kerusuhan London memang tak butuh penjelasan. Namun, semua kekerasan yang dilakukan warga jelas membutuhkan kajian lebih mendalam.



Saat berupaya menjelaskannya fenomena kerusuhan di London, para sosiolog akan memulainya dengan mengatakan tak ada cara memprediksi apa yang akan memicu pemberontakan kekerasan. “Fitur terpenting fenomena perilaku kolektif, terutama kerusuhan, adalah terjadi secara spontan dan tak bisa diprediksi dan merupakan peristiwa jarang terjadi secara statistic,” ujar profesor sosiologi emeritus Erich Goode dari State University of New York, Stony Brook.



Pria yang pernah meneliti dan menulis mengenai penyimpangan, kriminologi dan perilaku kolektif selama beberapa dekade ini menambahkan, seperti gempa atau julur api matahari, peningkatan kekerasan tiba-tiba yang diikuti penembakan polisi secara tak sengaja pada 4 Agustus lalu itu termasuk acak.



Teori paling banyak diterima dikemukakan psikolog Clifford Stott dari University of Liverpool di Inggris saat menjelaskan hooliganisme sepak bola. “Dari pusat kepentingannya, kita tahu ‘kerusuhan’ tak bisa dipahami sebagai ledakan ‘irasionalitas massa’ atau dijelaskan dalam hal individu yang memiliki kecenderungan pada kriminalitas oleh sifat disposisi patologis mereka,” papar Stott.



Berlawanan keyakinan itu, massa bertindak sepenuhnya sebagai bola tunggal kekacauan seperti pada teori Stott mengenai perilaku massa yang disebut Elaborated Social Identity Model yang menyatakan, individu yang berada dalam keramaian selalu memikirkan dirinya sendiri.



Di atas identitas masing-masing, mereka juga mengembangkan identitas sosial darurat, mencakup semua orang dalam kelompok. Ketika kelompok menghadapi tentangan, seperti polisi tanpa pandang bulu menyerang anggota kelompok dengan tongkat, identitas social akan makin mengental. Anggota kelompok mulai bekerja sama memerangi apa yang dilihatnya sebagai penindasan umum.



Anggota massa merasa terancam dan bereaksi keras mempertahankan diri mereka sendiri menjadi penjelasan terbaik atas peningkatan kekerasan pasca penembakan polisi di London.



Guna mencegah makin kuatnya identitas sosial di antara para perusuh, Stott menyarankan polisi agar mempertahankan persepsi mereka bertindak secara sah ketika berhadapan dengan orang banyak. Mereka harus melakukan ini dengan menargetkan perilaku kriminal khusus, daripada memperlakukan semua orang dalam kerumunan sama-sama kriminalnya.



Keyakinan dan hasil penelitian Stott tampaknya mendukung gagasan orang banyak menanggapi tindakan polisi yang rasional dengan berperilaku rasional juga. Profesor sosiologi emeritus Gary Marx di MIT juga memandang respon polisi terhadap massa sebagai faktor penentu bagaimana peristiwa ini akan berlangsung.



“Pihak otoritas sering kali berlebihan atau kurang merespon hal semacam ini,” ujar Marx. Jika polisi merespon terlalu cepat atau terlalu parah, reaksi akan timbul namun jika terlalu lambat, orang akan berpikir mereka bisa lolos dengan membawa lebih banyak hal, lanjutnya.



Respon sembarangan seperti penggunaan gas air mata bisa sangat berbahaya, karena hal ini bisa dianggap tak adil. Melalui media sosial, berita kebrutalan polisi bisa dengan cepat menyebar. “Jelas sekali, sarana baru komunikasi ini menjadi pengubah permainan,” kata Marx.



Dalam kasus kerusuhan London, Polisi Metropolitan mungkin telah kehilangan legitimasi sejak awal saat mereka menembak Mark Duggan. Para demonstran pun merasa diri mereka dalam kelompok yang sama seperti Duggan dan dengan cepat berubah menjadi kekerasan. Anehnya, anggota kelompok itu tak sesuai tiap kategori tertentu.



Hal sangat khas dari kerusuhan London adalah, kini konvergensi perusuh merupakan aktor-aktor heterogen bermotif berbeda, beberapa bertindak atas motif politik, lainnya untuk menjarah, sisanya karena perilaku liar dan gila, ujar Goode. “Jadi, sulit mengkategorikan perilaku serupa karena sebabnya dari impuls yang sangat berbeda”.



Peneliti di Violence & Society Research Group Simon Moore di Cardiff University di Wales menduga ada satu faktor yang bisa menyatukan semua perusuh, yakni persepsi mereka memiliki status rendah. Dalam penelitian tahun lalu, Moore menemukan, peringkat ekonomi rendah yang bukan miskin sebenarnya memunculkan penderitaan ini.



Bersamaan kesengsaraan ini, hasil penelitian menemukan, status rendah juga menyebabkan perasaan permusuhan, ujar Moore. “Area lain menunjukkan, status kerja rendah menimbulkan stres dan hal ini melibatkan agresi,” ujarnya lagi. Martin Luther King Jr memiliki psikologi kaum tersingkirkan yang serupa.



“Tak ada yang lebih berbahaya disbanding membangun masyarakat dengan segmen besar tempat orang merasa tak memiliki bagian di dalamnya, mereka yang merasa tak akan kehilangan apa-apa,” ujarnya.



Orang yang memiliki kepentingan dalam kelompoknya akan melindungi kelompok itu. Namun, ketika mereka tak memilikinya, mereka secara tak sadar ingin menghancurkannya, tutupnya.